Blog

ARL07001

Departemen Arsitektur Lanskap IPB University dan IALI Gelar Kuliah Tamu tentang Landscape Visual Impact Assessment

Event

Departemen Arsitektur Lanskap IPB University dan IALI Gelar Kuliah Tamu tentang Landscape Visual Impact Assessment

Bogor, 26 Agustus 2026 — Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University bersama Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertajuk “Landscape Visual Impact Assessment: Principles, Practice and Project Examples” pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Auditorium Toyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian IPB University, dan melalui platform Zoom, pada pukul 09.00–12.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang terdaftar pada Sistem Informasi Jasa Konstruksi Terintegrasi, sekaligus menjadi kuliah wajib bagi mata kuliah ARL1312 – Desain Lanskap pada Program Sarjana Arsitektur Lanskap. Kegiatan juga berkaitan dengan pembelajaran Analisis Dampak Visual pada jenjang magister.

Kuliah tamu menghadirkan dua praktisi dari Sheils Flynn Asia, yaitu Eoghan Sheils, BA (Hons), Principal Sheils Flynn Ltd & Sheils Flynn Asia, dan Astri Widoretno, ST, MLA, SLA/Design Manager sekaligus UK Project Lead Sheils Flynn Asia. Sementara itu, sesi kuliah tamu dipandu oleh Sholihin Nafar, S.P., M.Si., M.G.E.S., dari IPB University sebagai moderator.

Kegiatan diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan institusi profesional. Peserta dari kalangan akademik berasal dari IPB University, Universitas Insan Cendekia Mandiri, Universitas Udayana, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Manado, serta peserta dari jejaring akademik internasional, termasuk Jepang. Selain mahasiswa dan akademisi, kegiatan turut diikuti oleh praktisi dan perwakilan berbagai perusahaan serta studio yang bergerak di bidang lanskap, desain, konsultansi, dan pembangunan, antara lain ZED Collective, RIRE Landscape, Grahacipta Hadiprana Landscape, PT Ruang Hijau, ASD Studio, PT Adicita Karya Pertiwi, Agung Sedayu Group, Studio Teta, PT Marga Graha Penta, PT Tropica Greeneries, Damaiputra Group, Levner Consulting, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, hingga Sheils Flynn Asia. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan luasnya kebutuhan akan pemahaman mengenai dampak visual dan lanskap dalam proses perencanaan serta pembangunan.

Dalam pemaparannya, Eoghan Sheils membahas prinsip dan praktik Landscape and Visual Impact Assessment (LVIA), termasuk bagaimana LVIA dapat digunakan bukan hanya sebagai instrumen penilaian, tetapi juga sebagai alat dalam proses desain. Materi memperkenalkan peserta pada pentingnya memahami kondisi awal (baseline condition), karakter lanskap, serta landscape receptors dan visual receptors yang berpotensi terdampak oleh suatu pembangunan.

Pembahasan juga mencakup proses penilaian terhadap sensitivitas penerima dampak (sensitivity of receptor) dan besaran perubahan (magnitude of change) untuk menentukan tingkat signifikansi dampak. Dalam pendekatan tersebut, penilaian mempertimbangkan antara lain skala, cakupan geografis, durasi, serta reversibilitas perubahan yang ditimbulkan oleh suatu pembangunan. Dampak kemudian dapat dipahami berdasarkan arah dan tingkat signifikansinya, mulai dari substantial hingga negligible, serta dapat bersifat adverse, neutral, maupun beneficial.

Selanjutnya, Astri Widoretno membagikan pengalaman praktik melalui sejumlah contoh proyek yang memperlihatkan penerapan LVIA dalam konteks nyata. Peserta diperkenalkan pada proses identifikasi visual receptors, penentuan area kajian, hingga penggunaan Zone of Theoretical Visibility (ZTV) dan viewshed analysis untuk memahami kemungkinan keterlihatan suatu pembangunan dari berbagai lokasi.
Aspek teknis dalam merepresentasikan perubahan visual juga menjadi bagian penting dalam sesi tersebut. Materi menjelaskan penggunaan fotografi, survei drone, data point cloud, pemodelan tiga dimensi, serta photomontage untuk menghasilkan visualisasi yang dapat menggambarkan perubahan lanskap secara lebih akurat.

Peserta juga diperkenalkan pada perbedaan antara technical visualisations yang ditujukan untuk menghasilkan representasi yang akurat, objektif, dan dapat diverifikasi, dengan illustrative visualisations yang lebih menekankan penyampaian gambaran desain.
Melalui contoh proyek, peserta juga memperoleh gambaran mengenai bagaimana hasil kajian visual dapat terintegrasi dengan proses desain dan mitigasi. Materi menunjukkan bahwa LVIA dapat berjalan bersama proses perencanaan dan desain untuk membantu mengidentifikasi serta meminimalkan dampak pembangunan terhadap karakter lanskap dan kualitas visual. Pendekatan tersebut mendorong adanya proses desain yang iteratif, dengan pertimbangan lanskap dan visual menjadi bagian dari pengambilan keputusan sejak tahap awal.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi interaktif antara peserta dengan kedua pemateri. Sesi ini memberikan ruang bagi mahasiswa, akademisi, dan praktisi untuk membahas penerapan LVIA secara lebih kontekstual, baik dalam proses pendidikan arsitektur lanskap maupun dalam praktik profesional.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian kesimpulan, penyerahan apresiasi kepada pemateri, serta sesi foto bersama. Pelaksanaan kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya Departemen Arsitektur Lanskap IPB University dalam memperkuat keterhubungan antara pendidikan akademik dan praktik profesional, sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai metode penilaian dampak lanskap dan visual dalam pembangunan.

Kolaborasi bersama Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) juga memperkuat peran kegiatan sebagai ruang pertemuan antara dunia akademik dan profesi. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep LVIA secara teoritis, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai penerapannya dalam proyek nyata serta bagaimana hasil penilaian dapat berkontribusi terhadap terciptanya desain lanskap yang lebih responsif terhadap karakter tempat dan lingkungan.