Blog

ARL06469

International Guest Lecture Bahas Integrasi Teknologi dan Desain Tanaman Adaptif untuk Lanskap Tangguh terhadap Perubahan Iklim

Event

International Guest Lecture Bahas Integrasi Teknologi dan Desain Tanaman Adaptif untuk Lanskap Tangguh terhadap Perubahan Iklim

Bogor, 13 Agustus 2026 — Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Resilient & High-Tech Landscapes: Integrating CEA Technology and Climate-Adaptive Planting Design” pada Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini berlangsung di Faculty of Agriculture Meeting Room, IPB University, serta diikuti oleh peserta secara luring dan daring.

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Iftikhar Ahmed, Principal Designer & Founder Treeline Designz, Amerika Serikat, sebagai narasumber, dengan Prof. Hadi Susilo Arifin, Ph.D., Professor in Landscape Management, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University, sebagai moderator.

International Guest Lecture ini diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur Lanskap IPB University dengan dukungan SKALA (Silaturahmi Keluarga Alumni Arsitektur Lanskap) IPB University sebagai co-organizer, Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Bogor sebagai media partner, serta PT Wiraland sebagai sponsor.

Dalam pemaparannya, Dr. Iftikhar Ahmed membahas perkembangan desain lanskap yang semakin dituntut untuk mampu merespons berbagai tantangan lingkungan, khususnya perubahan iklim dan pertumbuhan kawasan perkotaan. Integrasi teknologi, pemilihan tanaman yang tepat, serta pendekatan hortikultura menjadi bagian penting dalam menciptakan lanskap yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

Salah satu pembahasan yang ditekankan adalah pentingnya keberadaan ruang hijau dalam lingkungan perkotaan. Vegetasi dan pepohonan tidak hanya berperan dalam memperindah kota, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas udara, mengurangi panas perkotaan, mendukung keanekaragaman hayati, serta menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan sehat bagi masyarakat.

Dr. Iftikhar juga mengangkat isu “Crime Against Horticulture”, yaitu berbagai bentuk perusakan, pencurian, penelantaran, maupun penghilangan tanaman, pepohonan, taman, dan ruang hijau. Fenomena tersebut dinilai tidak hanya merusak kualitas lingkungan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak terhadap kualitas hidup masyarakat. Karena itu, perlindungan terhadap lanskap hortikultura perlu dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan warisan hijau bagi generasi mendatang.

Dalam konteks desain yang berorientasi pada manusia, materi juga menyoroti pentingnya menciptakan lanskap yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Salah satunya melalui accessible garden yang dirancang agar dapat dinikmati oleh masyarakat dengan berbagai kemampuan. Jalur yang aksesibel, tanaman sensorik, bunga beraroma, tempat duduk yang nyaman, hingga penanda braille dapat digunakan untuk menciptakan ruang yang mendukung relaksasi, pembelajaran, interaksi sosial, serta meningkatkan kemandirian dan rasa bermartabat penggunanya.

Selain itu, Dr. Iftikhar memperkenalkan berbagai pendekatan desain taman berdasarkan karakteristik dan kebutuhan pengguna, termasuk meditation and relaxation garden serta children’s garden. Taman meditasi dan relaksasi dirancang sebagai ruang yang membantu pemulihan pikiran dan tubuh melalui suasana alami yang tenang, sedangkan taman anak dapat menjadi ruang pembelajaran langsung yang mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Lebih lanjut, pemateri menekankan bahwa hortikultura memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Tanaman dan pepohonan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan, keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan pangan. Di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi, dan ketahanan pangan, sektor hortikultura serta para profesional yang bergerak di dalamnya dinilai semakin penting dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan tangguh.

Kegiatan ini memberikan wawasan kepada peserta mengenai bagaimana perkembangan teknologi dan pendekatan desain lanskap dapat dipadukan dengan prinsip hortikultura untuk menghasilkan lanskap yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada akhir pemaparannya, Dr. Iftikhar Ahmed juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi bagi seorang perancang lanskap. Seorang landscape designer tidak cukup hanya menjadi perancang yang baik, tetapi juga perlu menjadi komunikator yang baik dan mampu mengedukasi klien mengenai gagasan serta nilai dari desain yang dihasilkan.

Melalui kegiatan ini, Departemen Arsitektur Lanskap IPB University bersama SKALA IPB University, IALI Bogor, dan PT Wiraland terus mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional sebagai bagian dari pengembangan wawasan akademik dan profesional di bidang arsitektur lanskap, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mewujudkan lingkungan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.