Blog

343A4895

Orasi Ilmiah Guru Besar tetap Fakultas Pertanian IPB: Prof. Dr. Syartinilia, S.P., M.Si. “Paradigma Ekologi Lanskap dalam Manajemen Terintegrasi untuk Konservasi Habitat Raptor”

Event

Orasi Ilmiah Guru Besar tetap Fakultas Pertanian IPB: Prof. Dr. Syartinilia, S.P., M.Si. “Paradigma Ekologi Lanskap dalam Manajemen Terintegrasi untuk Konservasi Habitat Raptor”

Bogor, 8 Juni 2024 – Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Departemen Arsitektur Lanskap (ARL), Prof. Dr. Syartinilia, S.P., M.Si., menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Paradigma Ekologi Lanskap dalam Manajemen Terintegrasi untuk Konservasi Habitat Raptor” di Graha Widya Wisuda. Dalam orasinya, Prof. Syartinilia menekankan pentingnya pendekatan ekologi lanskap dalam manajemen terintegrasi untuk konservasi habitat raptor.

“Indonesia menjadi lintasan migrasi bagi banyak raptor. Namun, kerusakan habitat dan perburuan ilegal telah mengancam keselamatan raptor tersebut,” ujar Prof. Syartinilia dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah pada 5 Juni lalu.

Prof. Syartinilia menegaskan bahwa diperlukan manajemen lanskap terintegrasi yang menggunakan paradigma ekologi lanskap. Pendekatan ini memungkinkan integrasi komprehensif dari struktur, fungsi, dan perubahan lanskap dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi interaksi ekologis.

“Paradigma tersebut mengombinasikan struktur lanskap dengan manajemen multi-skala, menghubungkan fungsi lanskap dengan manajemen lintas-batas, serta mengadaptasi manajemen pada perubahan. Semua ini bertujuan untuk mencapai integritas lanskap yang berkelanjutan,” jelas Prof. Syartinilia.

Beliau menjelaskan bahwa raptor dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan perilaku mereka, yaitu raptor yang menetap atau endemik, seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), dan raptor yang bermigrasi, seperti sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus).

Dalam kasus elang jawa, pendekatan multi-skala digunakan untuk memahami struktur lanskap dengan fokus pada patch habitat pada skala mikro, meso, dan makro. Temuan terbaru menunjukkan bahwa patch habitat elang jawa di dataran rendah mengalami penurunan yang sebelumnya tidak terdeteksi.

“Penurunan luas habitat potensial elang jawa disebabkan oleh degradasi hutan, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Proyeksi tahun 2050 menunjukkan penurunan signifikan dalam luas habitat potensial elang jawa,” ucapnya.

Sementara itu, Prof. Syartinilia menjelaskan bahwa sikep-madu asia, sebagai raptor migran, berperan penting sebagai indikator kesehatan ekosistem global. Perubahan iklim mengancam habitat dan jarak migrasi sikep-madu asia, dan model proyeksi menunjukkan penurunan luas habitat di masa depan.

“Oleh karena itu, penting untuk mengadopsi paradigma terintegrasi dalam manajemen lanskap guna mengatasi konflik dalam manajemen konvensional dan menjaga integritas lanskap. Konservasi habitat dan pemahaman lebih lanjut tentang perubahan lanskap menjadi bagian penting dari strategi konservasi untuk spesies raptor, baik yang endemik seperti elang jawa maupun yang bermigrasi seperti sikep-madu asia,” tutupnya.

Orasi ilmiah Prof. Dr. Syartinilia ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan strategi konservasi raptor di Indonesia serta mendorong upaya nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Selamat kepada Prof. Dr. Syartinilia, S.P, M.Si. atas orasi ilmiah dan pengukuhan Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian pada Sabtu, 8 Juni 2024, Semoga ilmu dan dedikasinya terus menginspirasi dan membawa kemajuan bagi dunia Landskap.